Transfer Nilai-nilai…

Untuk hidup, setiap saat kita pasti selalu beraktifitas, sejak bangun pagi hingga kita tidur pulas semuanya isinya adalah aktifitas. Tahukah kita apa di balik aktifitas yang kita kerjakan tsb…?

Adapun hal di balik semua aktifitas yang kita lalui setiap hari itu adalah bahwa KITA SEDANG MELAKUKAN TRANSFER NILAI-NILAI….
Timbul pertanyaan, siapa yang mentransfer, siapa yang menerima dan apa pula yang ditransferkan ..?
Nah, sekarang coba amati ketika kita melakukan salah satu aktifitas, contoh kecil seperti menonton TV, apa yg ditonton menentukan nilai yang akan ditransfer…
Sekarang coba tebak apa yang anda rasakan setelah menonton film perjuangan nasional…? atau apa yang anda rasakan setelah menonton film percintaan, atau film gulat atau tinju..?
Kemungkinan besar sepertinya sudah dapat kita ketahui, jika menonton film perjuangan nasional biasanya akan meningkatkan semangat nasional dan mampu berdampak pada prilaku kita akan mengikuti kekuatan nasionalisme seperti film nasionalisme yang kita tonton sebelumnya.
Lain hal setelah kita menonton film percintaan, dapat dipastikan biasanya kita akan memiliki perasaan yang lebih peka terhadap sesama dibanding menonton film gulat atau tinju yang keras.
Mendengarkan radio yang bermanfaat, akan membawa pendengarnya menjadi lebih bermanfaat, sebaliknya mendengarkan radio yang hanya nyanyian dan ocehan senda gurau yang tiada akhir tentunya akan membawa pendengarnya lebih suka mendengar ocehan senda gurau seperti itu.
Tinggal dan beraktifitas bersama orang yang kasar, hal ini tentunya secara perlahan akan mampu menjadikan kita seperti mereka, sebaliknya beraktifitas dalam lingkungan positif dan profesional pastinya harus menjadi demikian pula.
Itu semua disebabkan naluri manusia yang akan selalu menjiwai setiap aktifitas yang dijalaninya.
Nah, Apakah yang terjadi..? inilah yang disebut dengan TRANSFER NILAI-NILAI.
Transfer nilai-nilai terjadi ketika seseorang mulai membuka seluruh panca inderanya kepada dunia, baik itu makhluk hidup maupun benda mati seolah hidup yang dijangkau oleh panca inderanya.
Teknisnya begini, contoh ketika kita menonton acara ceramah agama, maka indera penglihat dan pendengaran kita sebenarnya adalah sedang menerima nilai-nilai yang ditransferkan dari acara ceramah agama tersebut. Sehingga tidak aneh jika kita akan menjadi lebih semangat untuk menjadi lebih baik.
Menonton film percintaan, maka indera kita menerima nilai-nilai cinta seperti di film tsb yang ditransferkan melalui TV. sehingga tidaklah heran setelah menontonnya kepekaan perasaan mungkin akan mengalami perubahan.
Berdagang, melihat dengan seksama pedagang curang yang menikmati riba perolehannya, bisa juga membawa kita untuk berkeinginan menghalalkan riba seperti dia.
Dikantor, pegawai lain enakan tidur di kantor, bukan tidak mungkin kita (pegawai) yang melihat dengan seksama bisa jadi ikutan mencari lapak lain untuk lahan tidur. Artinya yang tidur mentransfer nilai-nilai buruk yaitu keadaannya yang enakan tidur kepada kita sehingga kitapun bisa menghalalkan tidur.
Membaca, diskusi dan silaturrahmi yang bermanfaat merupakan salah satu proses tranfer nilai-nilai yang paling baik di samping aktifitas rumah sehari-hari.
Itulah transfer nilai-nilai, yang selalu kita alami dibalik setiap aktifitas kita.
Banyak nilai-nilai positif (baik) yang dapat kita peroleh dari setiap aktifitas, dan bisa juga kita terjebak kepada nilai-nilai negatif (buruk) dalam menjalani aktifitas kita..
Mungkin kita berfikir, “saya kan bisa kontrol diri sendiri, biarpun begini tapi saya tidak akan selalu begini”
Harus kita sadari kita terbentuk menjadi apa sekarang ini adalah bentukan dari apa yang pernah direkam oleh indera kita sebelumnya.
Dirimu di masa depan adalah bentukan dari nilai-nilai yang kamu terima saat ini…
So, sadari setiap aktifitas adalah transfer nilai-nilai, sehingga jika tidak nilai-nilai positif, maka nilai-nilai negatiflah yang kamu terima…
So, dapatkanlah nilai-nilai positif ketika indera mulai merasa….
Gunawan
gunawan_ftm@yahoo.com
waiting for U’re comment….
Trasfer Nilai-Nilai

KIAT MENJADI PENGUSAHA MUSLIM

jual-beli

Berdagang pada dasarnya merupakan salah satu pekerjaan yang sangat mulia, bahkan Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan sebagian shahabat beliau adalah para pedagang profesional. Namun di sisi lain Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam juga memperingatkan kita semua, bahwa tempat terburuk yang dibenci Allah adalah pasar.

Tentu bukanlah pasarnya yang salah, namun penghuninya, penjual dan pembelinya. Berapa banyak pedagang yang sibuk dengan dagangannya sehingga meninggalkan shalat dan dzikrullah, berapa banyak kecurangan, penipuan, riba dan berbagai kejahatan terjadi di pasar. Dan tentunya masih banyak lagi pola dan sistim pasar yang bertabrakan dengan syariat dipraktekkan di sana, yang penting dapat uang bagaimanapun caranya.

Dalam tulisan ini, akan kami ketengahkan beberapa kiat menjadi seorang pedagang muslim sejati, yang senantiasa memperhatikan norma dan hukum dalam berdagang. Semoga bermanfaat, bukan untuk mereka yang menggeluti dunia dagang saja, namun untuk kaum muslimin semua.

Kenalilah Dunia

Dunia -sebagaimana namanya- adalah sesuatu yang hina dan kecil dihadapan Allah Subhannahu wa Ta’ala, sebagaimana disabdakan Nabi Shalallaahu alaihi wasalam,
Artinya, “Dunia ini terlaknat, terlaknat juga apa yang ada di dalam-nya, kecuali dzikrullah dan segala yang mendukungnya, serta orang yang belajar ilmu dan mengajarkannya.” (HR. At Tirmidzi dan berkata, “Hadits Hasan Shahih”).

Dunia, dengan segala isinya, kekayaan alamnya, keindahannya, hartanya, pencakar langit dan istana-nya, mobil-mobil, barang dagangan, gunung, laut, bahkan langit dan bumi-nya tidaklah sebanding dengan sayap nyamuk di hadapan Allah.

Oleh karena itu mencurahkan perhatian secara total dan sepenuhnya untuk dunia adalah kesalahan yang fatal. Seorang mukmin janganlah berbangga-bangga dengan dunia yang diperoleh dan jangan berduka tatkala kehilangannya.

Dunia, sebagaimana diberitahukan oleh Nabi Shalallaahu alaihi wasalam adalah penjara bagi orang mukmin dan sorganya orang kafir. Orang mukmin di dunia ibarat sedang dipenjara, menjalankan berbagai ketaatan dan ibadah, mengekang dari segala hal yang haram yang hawa nafsu selalu condong kepadanya. Sedangkan orang kafir menganggap hidup di dunia ibarat di sorga, ia turuti segala kemauannya, bersenang-senang, makan enak dan kenyang, tak peduli halal haram, segala cara ditempuh untuk mendapatkan kesenangan.

Orang mukmin selalu ingat bahwa mereka diciptakan di dunia adalah untuk beribadah kepada Allah, sedangkan orang kafir berpandangan bahwa hidup didunia adalah untuk bersenang-senang saja.

Sungguh mengerikan kalau kita menyadari bahwa kelak kita akan ditanya tentang harta yang kita dapatkan di dunia, dari mana kita peroleh dan ke mana kita belanjakan? Siapkah kita mempertanggung jawab-kan setiap rupiah yang masuk ke kantong kita, setiap suap yang masuk ke dalam perut kita? Sudahkah kita punya jawabannya?

Dunia itu Terbatas

Semua yang kita miliki pasti akan kita tinggalkan, entah hari ini atau besok. Kalau seseorang telah mengumpulkan harta yang begitu banyak dengan cara yang haram atau menumpuknya tanpa mau membelanjakan untuk kebaikan, maka sungguh keru-gian besar atasnya.

Dia capek-capek bekerja, namun ahli waris yang menikmatinya, mereka bergembira dengan harta itu sedangkan dia menderita dengan siksa, mereka tak berperang, namun menikmati harta rampasan. Barulah ketika itu timbul rasa sesal, “Wahai andaikan aku mempersiapkan diri ketika hidup di dunia, andaikan aku berkerja dengan cara yang halal dan mubah, andaikan dulu sebagian hartaku ku gunakan untuk menyantuni anak yatim dan fakir miskin, untuk mem-bantu dakwah, membangun masjid, madrasah, andaikan…dan andaikan ini dan itu. Namun hari itu dia hanya bisa gigit jari, menyesali segala perbuatan-nya ketika masih hidup di dunia, ingin rasanya kembali ke dunia tapi …
(Demikianlah keadaan orang- orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguh-nya itu adalah perkataan yang diucap-kan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibang-kitan.” (QS. 23: 99-100)

Mumpung Masih Ada Kesempatan

Bersyukur, itulah yang layak kita lakukan karena Allah masih memberi-kan kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri. Membuka lembaran baru yang lebih baik dan terang, memperlurus seluruh langkah kehi-dupan. Dan yang penting mengapli-kasikan syukur itu dengan melakukan segala yang diridhai Allah, termasuk menjauhi penghasilan yang haram dan berdagang dengan cara yang dilarang Allah. Beruntung kita ketika dapat memposisikan diri sebagai orang yang telah mati lalu kita memohon kepada Allah untuk dikembalikan ke dunia dan permohonan kita dikabulkan. Maka apakah kita akan mengulangai seluruh dosa yang kita lakukan ? Apakah tidak selayaknya kita merubah jalan hidup dan perilaku salah kita? Jangan lagi perdagangan melalaikan kita dari ibadah, dzikir dan bersyukur kepada Allah, jangan lagi mengkhianati amanat Allah, dan jangan sampai meninggal-kan tanggung jawab sebagai seorang hamba.

Belajar Dulu Sebelum Berdagang

Seorang yang akan terjun ke dunia dagang maka “wajib ain” atasnya mempelajari fikih perdagangan dan muamalah. Sebab tidak diragukan lagi, bahwa orang yang tidak belajar masalah tersebut kemudian terjun ke dunia dagang dan bisnis, maka sangat mungkin akan terjerumus ke dalam keharaman.

Ali bin Abi Thalib Radhiallaahu anhu berkata, “Seorang pedagang jika tidak mengetahui hukum, maka akan terjerumus ke dalam riba, tenggelam dan teng-gelam”
Sedangkan Umar bin Khatthab Radhiallaahu anhu mengatakan, “Siapa yang tidak faham masalah agama janganlah sekali-kali berdagang di pasar kami.”

Jangan lupa selalu menanyakan kepada para ulama tentang segala permasalahan dagang yang belum jelas agar jangan sampai kita masuk ke area yang tidak hahal. Sebab teori dagang senantiasa berkembang dari hari ke hari, dan para ulama insya Allah akan memberikan wawasan kepada kita tentang mana yang halal dan mana yang haram.

Kiat Muslim dalam Berdagang

1. Jujur
Nabi Shalallaahu alaihi wasalam telah bersabda yang artinya, “Pedagang yang jujur dan terpercaya bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada.” (HR. At-Tirmidzi, beliau mengatakakan,”Hadits hasan”)

Di dalam hadits lain juga disebutkan, yang artinya :
“Dua orang yang berjual beli memiliki khiyar (hak pilih) sebelum keduanya berpisah, jika mereka berdua jujur, maka jual belinya mendapatkan berkah. Dan jika keduanya menyembunyikan cacat serta bedusta, maka hilanglah keberkahannya.” (Muttafaq ‘alaih)

2. Toleran dan Mempermudah Urusan
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersbada,
Artinya, “Semoga Allah merahmati seorang hamb a yang toleran apabila menjual, toleran jika membeli dan toleran dalam tuntutan.” (HR al Bukhari)

3. Jangan Menipu
Masyarakat Islami ditegakkan di atas amanah, sistem yang bersih, nasehat menasehati dan meninggalkan segala bentuk penipuan dan kecurangan. Menipu dapat melenyapkan berkah, mendatangkan murka dan siksa Allah Ta’ala serta menjerumuskan ke dalam api neraka. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam telah bersabda,
Artinya, “Barang siapa yang menipu, maka bukan termasuk golongan kami.” (HR Muslim).

Beliau juga menegaskan di dalam hadits lain yang artinya, “Barang siapa yang menipu, maka bukanlah termasuk golongan kami, makar dan tipudaya adalah di neraka.”

4. Jangan Curang dalam Takaran dan Timbangan
Sebagaimana diperingatkan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala dalam firman Nya,
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, ((yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apa-bila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”. (QS. 83:1-3)

Ibnu Abbas meriwayatkan, “Bahwa tatkala Nabi Shalallaahu alaihi wasalam tiba di Madinah, ternyata banyak penduduknya yang curang di dalam takaran. Kemudian Allah menurunkan surat al Muthaffifin, maka akhirnya mereka membaguskan takaran setelah turun ayat itu.” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, dihasankan al Albani)

5. Tidak Menimbun Barang
Trik seperti ini sering dilakukan oleh para pedagang, apalagi pedagang dimasa ini yang rata-rata tidak tahu hukum dan aturan. Dengan menimbun barang dagangan, mereka ingin agar harga menjadi tinggi, karena jika permintaan banyak sedangkan barang yang beredar sedikit, maka harga dapat dimainkan sekehendak penjual.
Ini adalah model perdagangan yang licik, dan Nabi Shalallaahu alaihi wasalam telah bersabda, “Barang siapa yang menimbun barang, maka dia telah berdosa.” (HR. Muslim)

6. Jangan Bersumpah Palsu
Nabi Shalallaahu alaihi wasalam telah memperingatkan kita dari hal ini melaui sabdanya,
Artinya, “Sumpah yang buruk (dusta) melenyapkan barang perdagangan dan menghalangi berkah penghasilan.”(Muttafaq ‘alaih)

7. Jauhi Riba
Sebagaimana telah diperingatkan oleh Allah melalui firman Nya,
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut), jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasulnya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. (QS. 2:278-279)

Peringatan Untuk Kita

  • Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda kepada Ka’ab bin ‘Ujrah, artinya, “Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah! Sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari barang yang haram (suht).”

  • Ibnu Abbas Radhiallaahu anhum pernah mengatakan, “Mencari penghasilan yang halal lebih berat daripada memindahkan satu gunung ke gunung yang lain.”

  • Yunus bin Ubaid berkata, “Aku tidak mengetahui sesuatu yang paling langka daripada dirham halal yang diinfakkan.”
    Ini dikatakan pada Zaman Yunus bin Ubaid, lalu kita akan berbicara apa pada masa ini? Di zaman tatkala sistim kapitalisme dan ribawi sudah merajalela, pelaku dagang dan bisnis jarang yang tahu fikih dan hukum perdagangan?

  • Berkata pula Yahya bin Muadz, “Kataatan itu tersimpan di dalam perbendaharaan Allah Subhannahu wa Ta’ala, kunci-kunci-nya adalah doa, sedang gigi-giginya adalah suapan yang halal.”
    Wallahu a’lam bisshawab.

Sumber : “Risalah ‘Ajilah ilat Taajir al-Muslim” Khalid Abu Shalih. (Abu Ahmad Taja)
( Jum’at, 26 Ramadhan 1424H/21112003 M )

Sumber : http://www.alsofwah.or.id/cetakannur.php?id=255

MEMANFAATKAN WAKTU LUANG

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,”Ada dua nikmat yang sering disia-siakan: waktu luang dan kesehatan.” Pada kesempatan yang lain, beliau juga pernah berpesan,”Ambillah yang lima sebelum datang lima yang lainnya:…waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu.”

Dua penggal sabda Rasulullah diatas secara tegas memerintahkan kita untuk pandai memanfaatkan waktu luang. Setiap manusia memiliki waktu yang sama: 7 hari dalam satu pekan, 24 jam dalam sehari semalam. Kepandaian setiap orang dalam memanfaatkan jatah waktu yang sama itulah yang akan membedakannya dari orang lain.

Ada orang yang dengan 24 jam-nya mampu melakukan 100 kebaikan, sementara ada pula orang yang dengan 24-jamnya hanya mampu melakukan 10 kebaikan. Ada orang-orang yang dalam kesehariannya memiliki produktivitas sampai 100%, dan ada pula orang-orang yang dalam kesehariannya hanya mampu memiliki produktivitas tidak lebih dari 10%. Mengapa bisa demikian? Saya rasa, jawabannya adalah pemanfaatan waktu. Siapa yang paling pandai memanfaatkan waktunya, dialah yang akan memiliki produktivitas paling tinggi.

Nah, diantara kepiawaian memanfaatkan waktu adalah kepandaian dalam memanfaatkan waktu luang. Setiap kita pasti punya waktu luang. Waktu luang itu bisa jadi berupa waktu yang betul-betul luang: tidak ada agenda yang kita miliki ketika itu. Bisa jadi pula waktu luang itu adalah alokasi waktu yang terlalu banyak untuk suatu hal seperti tidur dan bersantai-santai.

Buatlah Perencaanaan

Mengapa ada orang yang bisa sampai merasa tidak punya agenda pada suatu waktu? Mengapa ada orang yang suatu ketika jadi bertanya pada dirinya sendiri: ”Mau ngapain ya saya saat ini?” atau ”Enaknya ngapain ya saat ini?” Saya rasa sebabnya adalah karena yang bersangkutan kurang bagus dalam perencanaan. Seandainya dia me-list segala hal yang semestinya dia lakukan, kemudian mengurutkannya berdasarkan prioritas, saya yakin alokasi waktu yang ada tidak akan cukup menampung semua hal yang telah ia list tadi. Ini artinya mau tidak mau ia harus memangkas beberapa hal yang berada pada urutan paling bawah, yang bisa jadi masih bisa dilakukan pada kesempatan yang lain. Kenyataan seperti ini digambarkan oleh seorang pejuang besar abad ini yang bernama Hasan Al-Banna ketika ia berkata,”Kewajiban-kewajiban kita sesungguhnya lebih banyak daripada waktu yang kita miliki.”

Melihat kenyataan ini, jika ada orang yang pada suatu kesempatan masih sempat merasa bahwa ia tidak punya agenda maka sudah pasti permasalahannya adalah ketidakmampuannya dalam perencanaan agenda. Untuk menyiasati hal ini, sangatlah baik jika setiap orang menyempatkan beberapa saat dari waktunya untuk membuat perencaaan aktivitas. Bila perlu, catatlah diatas kertas perencanaan aktivitas tersebut secara detail. Cara ini cukup handal dalam rangka me-manage diri kita untuk bisa optimal dalam pemanfaatan waktu.

Tinggalkan Hal-hal yang Tidak Jelas Manfaatnya

Ada lagi fenomena lain dari ketidakmampuan seseorang memanfaatkan waktu. Saya sering melihat orang-orang yang menghabiskan sekian lama dari waktunya untuk hal-hal yang tidak jelas manfaatnya. Contohnya: ngobrol kesana-kemari sambil leyeh-leyeh, tidur terlalu banyak, berjam-jam main game, berjam-jam nonton televisi, dan sebagainya. Saya rasa hal-hal seperti ini sangat sering merupakan penyebab habisnya waktu yang kita miliki, tanpa kita sadari. Saya tidak jarang menemui orang-orang yang mengeluh,”Waduh, saya tidak punya waktu nih.” Bahkan sayapun pernah mengalaminya.

Lakukan Semuanya dengan Efisien

Ada lagi orang-orang yang kehilangan waktunya karena ia terlalu boros dalam penggunaan waktu. Yang saya maksud dengan boros disini adalah tidak efisien. Contohnya, menghabiskan waktu empat jam untuk sebuah rapat yang semestinya bisa dilakukan selama satu jam. Rapatnya menjadi berlarut-larut karena masing-masing berangkat menuju rapat dengan pikiran kosong, atau karena metode pembahasannya terlalu bertele-tele dan tidak efisien, atau karena terlalu banyak canda dan tawa didalamnya, atau terlalu banyak debat dan usulan-usulan yang tidak perlu, atau karena sebab-sebab inefisiensi lainnya. Terus terang, saya termasuk orang yang tidak sabaran dengan hal-hal seperti ini.

Jangan Menunda-nunda Pekerjaan

Ketidakpandaian memanfaatkan waktu luang pada dasarnya adalah bom waktu. Jika seseorang tidak bisa memanfaatkan waktu-waktu luangnya untuk menyelesaikan kewajiban-kewajibannya, maka ia harus bersiap-siap menemui suatu waktu dimana kewajiban-kewajiban itu akan bertumpuk dan menindih tubuhnya. Ketika itu ia dipaksa harus menyelesaikan semuanya, banyak sekali, sementara waktu yang ia miliki sangat terbatas. Ketika itulah biasanya ia baru sadar mengapa ia tidak menunaikan kewajiban-kewajiban itu pada waktu-waktu luang yang sebelumnya ia miliki. Ketika itulah ia akan menyesal mengapa ia suka menunda-nunda segala sesuatu atau mengapa ia tidak mampu merencanakan segala sesuatunya dengan lebih baik.

Kesimpulannya: tidak memanfaatkan waktu luang berarti menyengsarakan diri sendiri, dan memanfaatkan waktu luang berarti membuat enak diri kita sendiri.

Jika begini, masihkah kita suka menyia-nyiakan waktu kita? Masihkah kita suka menunda-nunda segala sesuatu?

The Power Of Kepepet

Ada 2 penyebab yang membuat orang tidak tergerak untuk BERUBAH. Yang pertama adalah Impiannya Kurang Kuat dan yang kedua Tidak Kepepet. Coba bayangkan Anda seorang karyawan yang bekerja dengan gaji 2jt/bulan. Seyogyanya Andapun merasa cukup puas. Kemudian pada suatu waktu anda ingin meningkatkan penghasilan dengan berbisnis. Calon mitra bisnis anda meminta anda untuk menyediakan modal sebesar 50jt untuk membantu membangun bisnis tersebut. Apa yang anda pikirkan….? Dengan gaji 2jt/bulan untuk mencapai 50jt akan memakan waktu 25 bulan kerja. Atau kerja 2 tahun lebih. Sementara mitra bisnis Anda meminta kepastian besok atau lusa. Anda mungkin gagal berbisnis dengan mitra bisnis anda, atau lebih parah anda akan memaki habis mitra bisnis anda tadi “yang tidak-tidak saja, masa saya harus ngumpulin 50jt besok pagi…!, wong edan….!”. Nah…, Bagaimana kalau ceritanya kita modif sedikit…? “Coba Bayangkan……! Anda mempunyai seorang buah hati kecil, mungil dan manis yang sangat Anda sayangi sepenuh hati, Tiba-tiba malam hari ini si buah hati mendadak sakit keras, demam tinggi dan kondisinya semakin melemah. Sehingga kemudian Anda membawanya kerumah sakit. Setelah pengecekan di U G D, ternyata dia didiagnosis mengidap penyakit yang sangat kronis bagi seorang anak kecil. Dokter mengatakan sebaiknya besok juga dia harus dioperasi, jika tidak nyawanya akan melayang. Sementara Pihak rumahsakit mengatakan “Pak…, operasi hanya bisa dilaksanakan apabila menyerahkan uang tunai sebesar 50jt untuk pembiayaan proses operasi paling lambat jam 9 besok pagi agar operasi bisa segera dilangsungkan, bagaimana pak….? Bisa…?”. Nah…, Bagaimana….? Apakah Anda masih ingin mengatakan tidak bisa…? Saya rasa mayoritas akan menjawab “YA SAYA BISA….”. Kenapa bisa…? , yak arena KEPEPET…!, Jika tidak, maka yang akan ditanggung akan sangat besar bahkan sangat menyakitkan.

Kepepet-VS-Iming-iming

The Power of Kepepet
The Power of Kepepet

Bayangkan anda sedang berada diatas gedung A setinggi 180m (angina kencang, bahkan melihat ke bawahpun bisa menggigil). Bersebelahan pada jarak 10 meter, ada gedung B dimana ketinggiannya sama. Di antara gedung terdapat sebatang besi yang lebarnya hanya sejengkal.Mampukah Anda melintasi besi tersebut hingga ke Gedung B…? Mungkin Anda berfikir:”gila sekali, mempertaruhkan nyawa seperti itu hanya untuk berhasil melintasi sebatang besi….!”. Coba sedikit kita “modif”, di Gedung B kita buat sebuah iming-iming hadiah sebesar 10 juta. Anda mgkn berfikir: “10jt….? Ah… kayaknya ga sebanding dengan resiko yang akan kita terima., ogah ah…”. Baik, kita modif sedikit lagi : “di Gedung B kita berikan iming-iming hadiah sebesar Rp. 1.000.000.000 (1miliyar). Nah… disini mungkin ada yang mulai mengabaikan resikonya karena iming-imingnya sudah cukup kuat, tapi mungkin masih saja ada yang tidak mau mempertaruhkan nyawanya seperti itu.” Karena sifatnya bisa berhasil bisa mati konyol. Atau bisa dikatakan kemungkinannya paling hebat adalah 50:50 alias untung-untungan. Sekarang coba ceritanya kita modif menjadi: “Gedung A mengalami kecelakaan akan Runtuh. Tempat Anda berdiri sekarang mulai bergetar (entah karena dihantap pesawat, dll) sehingga mengindikasikan akan runtuh. Tanpa pikir panjang, andapun langsung berlari melintasi batangan besi tadi menuju Gedung B. dan sekalipun iming-iming 1miliyar sudah tidak ada, Anda pasti akan tetap melintasi besi tersebut. Betul…?” So.., manakah jenis motivasi anda…? Kepepet or iming-iming….? Silakan baca The Power Of Kepepet tulisan Jaya Setiabudi

Jika seorang MUKMIN ingin menjadi pengusaha besar. Apakah motivasinya…?

Itulah secuil  pertanyaan yang timbul dari hati ketika membaca buku “The Power Of Kepepet”-nya Jaya Setiabudi. Bagi Anda yang ingin menjadi wirausahawan sejati, buku ini layak untuk di”intip”.
Pernah di bukunya Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa kepentingan dunia dan kepentingan akhirat hakikatnya tidak akan bisa berjalan bersamaan. Hal itu pulalah yang membuat hati ini bertengkar dengan akal hingga menimbulkan tanda tanya besar (bagiku) ini.
Tanda tanya ini sepertinya tak bisa dijawab 1 orang saja. akhirnya ku “lemparkan” kepada beberapa teman via sms dan Alhamdulillah dapat jawaban.

1. Pertanyaan pertama tertuju kepada Bambang Arianto:
“Jika seorang MUKMIN ingin menjadi pengusaha besar. Apakah motivasinya…?”
jawab:
“Pertama Motivasi itu harus lahir dari dalam dirinya, yaitu niat. Kemudian apa yg menjadi faktor2 trhadap dia untuk menjadi pengusaha. Dan yang terakhir, apa tujuan dia untuk menjadi pengusaha. seorang mukmin menjadi pengusaha itu boleh2 saja.”
comment: hmm…. pertanyaan dg jawaban pertanyaan… Untung jg punya kawan yang kuliah di Pemerintahan ya… bisa melatih kita menjadi lebih kritis. trimakasih Pak.

2. Kepada Nana

jwb: “1. ingin kaya
2. ingin sukses
3. punya duit
4. mapan
5. dakwah”
comment: jawaban singkat yg padat. punya teman seorang praja(wati) IPDN seperti ini meninspirasi kita akan ketegasan. terimakash Bu.


3. Kepada Ikhwan. (Teman Sekampus)

jwb: “Tergantung masing-masing orang sih… Tp klw gw, mdh2an agar bisa beribadah dgn membantu org2 yg susah….”
Comment: Amin,  trimaksih bro.
4. Kepada Rima (teman SMA)
jwb:”Ha…2, kok cita2 kt sama ya? tp ma blum bs ngasih kt2 motivasi tuk jd pengusaha pada Nawan. Soal-a Ma blum jd apa2. Jd, Ma punya kata2 motivasi dlm berjuang. Ma punya kata2 yg slalu ma ucapkan dikala mnemui kegagalan. JADILAH SEPERTI SEMUT. kata2 dikala ada tatapan sinis menyapa, JADILAH SEPERTI KATAK. kata2 dlm menghadapi perjuangan hidup, AKU AKAN JADI PELANGI.”

comment: hmm…. temanku yg satu ini tampaknya cukup berbakat jd motivator ya…? maklum anak psikilogi. he….

5. Kepada David (Teman sekampus)
jwb: “W3. Motivasi maksudnya yg sesuai aturan gt? kalw ya, karena islam dg beberapa ibadahnya, tidak mungkin dilaksanakan tnpa adanya faktor finansial yg mumpuni. Hajikah.. zakat, dll. Dan kemandirian islam, jg seharusnya di sektor ekonomi. Hingga mgkn kt tak pernah lg mlhat pengemis berkerudung, membangun mesjid dng mengemis di jalan, hingga akhirnya umat akan percaya bahwa islam sbg ustadziatul’alam . Guru bg alam. Tiap mukmin tidak harus kaya, tp hrs kaya raya.
Di zaman Rasulullah kita kenal Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Abu Bakar dll. Semua pengusaha mukmin yang kaya, melebihi bill gates.

comment: wah… tegas sekali ya…

6. Kepada Ahmad Qurtubi (Teman sekampus)
jwb: “As-Shaf : 10, Ya ayyuhalladzi na amanu hal adullukum ala tijaratin tunjikum….. ,
comment: Alhamdulillah, cukup jelas. suqron akh…

7. Kepada Wira (Teman Sekampus)

jwb: “Klo aq sbg org awam, yg palng penting ridho Ilahi bukan ridho rhoma lho… Dan jg bisa bermanfaat buat orang laen.

comment: sangat dalam

Alhamdulillah saya sudah dapat sedikit referensi dari pandangan beberapa teman-teman yg insyaAllah istiqomah di jalan Allah. Amin
Tapi saya masih terus menantikan pandangan dari teman2 yg lain di blog ini.
tinggalkan comment anda untuk pertanyaan
“Jika seorang MUKMIN ingin menjadi pengusaha besar. Apakah motivasinya…?”

Matematika Dasar Sedekah

Artikel ini berasal dari ust. Yusuf Mansur

Apa yang kita lihat dari matematika di bawah ini?
10 – 1 = 19
Pertambahan ya? Bukan pengurangan?
Kenapa matematikanya begitu?
Matematika pengurangan darimana?
Koq ketika dikurangi, hasilnya malah lebih besar?
Kenapa bukan 10-1 = 9?
Inilah kiranya matematika sedekah. Dimana ketika kita memberi dari apa yang kita punya, Allah justru akan mengembalikan lebih banyak lagi. Matematika sedekah di atas, matematika sederhana yang diambil dari QS. 6: 160, dimana Allah menjanjikan balasan 10x lipat bagi mereka yang mau berbuat baik.

Jadi, ketika kita punya 10, lalu kita sedekahkan 1 di antara yang sepuluh itu, maka hasil akhirnya, bukan 9. Melainkan 19. Sebab yang satu yang kita keluarkan, dikembalikan Allah sepuluh kali lipat.

Hasil akhir, atau jumlah akhir, bagi mereka yang mau bersedekah, tentu akan lebih banyak lagi, tergantung Kehendak Allah. Sebab Allah juga menjanjikan balasan berkali-kali lipat lebih dari sekedar sepuluh kali lipat. Dalam QS. 2: 261, Allah menjanjikan 700x lipat.

Tinggallah kita yang kemudian membuka mata, bahwa pengembalian Allah itu bentuknya apa? Bukalah mata hati, dan kembangkan ke- husnudzdzanan, atau positif thinking ke Allah. Bahwa Allah pasti membalas dengan balasan yang pas buat kita.

Memberi Lebih Banyak, Menuai Lebih Banyak Kita sudah belajar matematika dasar sedekah, dimana setiap kita bersedekah Allah menjanjikan minimal pengembalian sepuluh kali lipat (walaupun ada di ayat lain yg Allah menyatakan akan membayar 2x
lipat). Atas dasar ini pula, kita coba bermain-main dengan matematika sedekah yang mengagumkan. Bahwa semakin banyak kita bersedekah, ternyata betul Allah akan semakin banyak juga memberikan gantinya, memberikan pengambalian dari-Nya.

Coba lihat ilustrasi matematika berikut ini:

Pada pembahasan diatas, kita belajar:
10 – 1 = 19

Maka, ketemulah ilustrasi matematika ini:
10 – 2= 28
10 – 3= 37
10 – 4= 46
10 – 5= 55
10 – 6= 64
10 – 7= 73
10 – 8= 82
10 – 9= 91
10 – 10= 100
Menarik bukan? Lihat hasil akhirnya? Semakin banyak dan semakin banyak. Sekali lagi, semakin banyak bersedekah, semakin banyak penggantian dari Allah.

Mudah-mudahan Allah senantiasa memudahkan kita untuk bersedekah, meringankan langkah untuk bersedekah, dan membuat balasan Allah tidak terhalang sebab dosa dan kesalahan kita.

Sebagaimana kita ketahui, hidup kita jadi susah, lantaran memang kita banyak betul dosanya. Dosa-dosa kita mengakibatkan kehidupan kita menjadi tertutup dari Kasih Sayangnya Allah. Kesalahan-kesalahan yang kita buat, baik terhadap Allah, maupun terhadap manusia, membuat kita terperangkap dalam lautan kesusahan yang sejatinya kita buat sendiri. Hidup kita pun banyak masalah. Lalu Allah datang menawarkan bantuan-Nya, menawarkan kasih sayang-Nya, menawarkan ridha-Nya terhadap ikhtiar kita, dan menawarkan ampunan-Nya. Tapi kepada siapa yang Allah bisa berikan ini semua? Kepada siapa yang mau bersedekah. Kepada yang mau membantu orang lain.
kepada yang mau peduli dan berbagi.

Kita memang susah. Tapi pasti ada yang lebih susah. Kita memang sulit, tapi pasti ada yang lebih sulit. Kita memang sedih, tapi barangkali ada yang lebih sedih. Terhadap mereka inilah Allah minta kita memperhatikan jika ingin diperhatikan Allah.

Manajemen Waktu

Waktu semua manusia di dunia ini sama, 24 jam telah diberikan oleh Tuhan. Tapi mengapa ada orang yang sukses dan yang gagal? Mengapa ada yang bisa melakukan banyak hal dan yang cuma menganggur? Rahasianya ada pada bagaimana kita bisa mengatur waktu.

 

Enam hal yang sering dialami pelajar yang suka mengeluh ‘gak punya waktu’:

  1. Meremehkan waktu yang tersedia
  2. Membuang-buang waktu
  3. Menunda tugas hingga saat terakhir
  4. Membesar-besarkan tugas yang didapat
  5. Tidak menepati deadline
  6. Datang terlambat

Jangan Suka Menunda-nunda! Agar tak menunda-nunda tugas:

  1. Membentuk pikiran positif
  2. Menetapkan tujuan jelas
  3. Menentukan prioritas
  4. Membagi tugas besar menjadi kecil-kecil
  5. Berkomitmen pada tugas
  6. Gunakan pengingat/alarm
  7. Hargai diri sendiri

Kita harus disiplin! Just like Bobby Knight says…Discipline is:

  1. Do what has to be done
  2. When it has to be done
  3. As well as it can be done
  4. Do it that way every time!

)* Dalam suatu gaya menegement Korea ada kampanye hemat waktu 5 detik per orang. kalau waktu ini dikumpulkan selama setahun dikalikan jumlah karyawan, berapa produk yang dapat dihasilkan?

(taken from Ma Chung University Study Skills hand-out…just wait for d’next part!^^)