Gagal Mudik

Hari ini tanggal 6 desember 2008, 2 hari yang lalu di Banda Aceh dan beberapa wilayah lainnya di Aceh melaksanakan perayaan Hari Gerakan Aceh Merdeka (GAM) oleh sebagian besar masyarakat Aceh khususnya kerabat anggota GAM.

Sementara jauh puluhan bahkan ratusan kilometer di sebelah selatan Banda Aceh sana, Aku terpatung di depan TV bututku sambil menyaksikan kemeriahan acara Irwandi CS tsb dari Ibukota Sumatera Utara tempatku menjalani pendidikan (kuliah) saat ini.

Medan dengan budaya bataknya yang kental memang terkenal dengan mimik dan intonasi bahasanya nyaris kasar. Menjelang lebaran kota ini juga tidak terlihat begitu sepi, tetap ramai, hanya saja keramaian sekarang dipenuhi dengan orang yang memang tidak merayakan Idul Adha yang sebentar lagi akan tiba. Keramaian seperti itulah yang memaksaku untuk tetap ‘nongkrong’ di depan TV bututku itu.

Baik dari keluarga maupun teman-teman di kampung terus menanyakan kepulanganku di hari raya nanti. Karena Idul Adha tinggal beberapa hari lagi akupun mulai membayangkan susunan acara untuk nanti kalau sudah mudik ke kampung. Karena akan susah nantinya di kampung kalau tidak ada ‘plan’ kegiatan yang matang.

Begitu besar memang keinginan ingin pulang kampung dan lebaran bersama kedua orang tua dan keluarga lainnya. Tepat tanggal 5 kemarin aku berjanji esok hari (tgl 6 hari ini) aku sudah harus berada di kampung. Masalah ongkos mudik kebetulan memang sudah dijanjikan aku akan dikirim uang dari kampung, dan sore nanti sudah dikirim.

Dengan segundang harapan kucurahkan kepada penantian kiriman datang yang akan mengisi kartu ATM di dompet ku ini.

Hingga waktu magrib tiba terus kulayangkan sms “apa sudah dikirim duitnya…?” kepada beberapa nomor hp keluarga yang ada di kampung.

Namun, jangankan menanti balasan, terkirim sajapun tidak. “Ada apa dengan semua hp mereka” pikirku.

Ini ku anggap satu ‘point’ alasan yang meyakinkanku untuk tidak mudik ke kampung..

Keraguanku akan jadi mudik mulai bertambah jelas setalah beberapa alasan menimpalinya. Pertama Hari raya jatuh pada tanggal 8 desember hari senin, sementara tanggal 9 desember hari selasa aku mempunyai jadwal untuk ujian akhir semester.

Kedua, setiap mudik pasti harus balik lagi, kepulanganku pasti akan melahirkan keberangkatan kembali dikemudian hari karena tujuan dasar belum selesai.

Apabila kepulangan yang tidak terlalu memerlukan biaya saja tetap masih harus dibiayai, bagaimana dengan keberangkatan kembali nanti…..?

Kalau biaya sendiri saja susah bagaimana dengan membiayai yang lebih dari satu orang….?

Pendidikan adalah hal yang urgent menurut keluarga kami. Sehingga aku diperkenankan untuk menjalani kuliah hingga jauh keluar daerah. Demikian juga halnya dengan saudara/i ku yang lain juga diberikan hak yang sama. Ini menjadi alasan bahwa yang menjalani pendidikan (kuliah) bukanlah aku sendiri saja melainkan ada juga seorang saudariku yang kuliah, namun sebelumnya adikku sudah mudik terlebih dahulu.

Jika aku mudik, maka nanti yang harus “diberangkatakan” menjadi 2 orang pula.

Dan ini bukanlah pendanaan yang mudah oleh keluargaku.

“kepada siapa lagi nanti akan mencari pinjaman….?”

“kemana lagi nanti akan menawarkan sepetak tanah untuk diobralkan ini untuk biaya berangkat kuliah nanti..?” risau ku dalam hati.

Hingga pukul 8 malam masih belum ada jawaban dan balasan sms.

Hingga akhirnya kuputuskan dengan satu kali sms pulsa yang terakhir:

“Hidup adalah perbuatan = Sutrisno Bakhir”

“Hidup adalah perjuangan = Sukarno”

“Hidup adalah perngorbanan = Rhoma Irama”

“Tidak hidup kalau tidak ada perbuatan, perjuangan, dan pengorbanan”

“Selamat Hari Raya Kurban”

“Maaf Aku Ga Jadi Mudik_”

Tinggal kini bagaimana mengisi hari libur yang sunyi ini……

Dengan efektif, efisien, hemat alias 53k4r47 d4n4…………. he….

Ada Teman laki2 yg jg tdk mudik mengajak untuk menjadi seperti batman alias keluyuran malam dg kereta underbound nya, kawan ini pasti cita-citanya menjadi tukang pos, soalnya tidak malam, tidak siang itu kota Medan mau dikelilingi aja. Pit stop nya kalau tidak di galon minyak pasti di warkop/kafe. Kalau makan ditraktir sih ga masalah, tp wah… boro-boro…..¿, kepala jadi puyeng, paru-paru jadi bolong, kantong jadi kosong, ogah ah…

Ada teman pr dari akbid yg juga ga jadi mudik merasa senasib dan lagi kesepian bgt. Wowww…..

Eh… tidak3x…sangat berbahaya.. hi….. (wa laa takrabul jinna)

apalagi untuk istriku nanti….. cape deh…

Mudah-mudahan walaupun hari liburan ini tidak bersama keluarga namun bisa merasakan kedekatan kepada keluargaku di kampung.

“Salam hangat dan sayang dari yang jauh buat keluarga yang tidak tersua”

One thought on “Gagal Mudik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s