22/08/08

“Hah… Astaghfirullah…..!!! Lagi-lagi hari ini aq kecolongan.” Gumamku kaget seraya bangkit dari tidur.

“Ya Allah… Ampunilah hambamu ini… yang kerap kali lalai atas perintah-Mu, lagi-lagi hari ini aku bangun jam 7 lewat, oh… Tuhan tanpaknya aku kembali harus shalat shubuh di hadapan mataharimu”.

Ya.. tampaknya Syaitan masih lebih menguasai diriku dibanding setitik iman ini.

Bagaimanapun, aku tidak boleh tidak shalat subuh. Langsung aku menuju kamar mandi, membuka kran yang ada di kamar mandi untuk berwudhu’ lalu terus langsungkan shalat.

“Betapa sudah buruknya iman ini” sesalku dalam hati.

Syaitan memang benar-benar musuh yang nyata bagi manusia, senantiasa melalaikan manusia dan mengajaknya ke neraka. Dengan senjata nafsunya, tidak jarang iman kitapun habis dibantainya. Kadang iman terasa naik-turun, saat itu pula seolah sedang berlangsung peperangan yang dahsyat antara iman dan nafsu di dalam batin dan hanya cahaya Allah yang mampu menyelamatkan.

Oleh karena itu, setiap kali usai shalat sering kupanjatkan doa,

“Ya muqallibul qulub, tsabbit qulubana aladdiin”

Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hadzaani, wa a ‘udzubika minal aj zi wal katsali, wa a ‘udzubika minal jubni wal bukhli, wa a udzubika min khalabatiddaini wa qahrir rijaal.”

“Allahmummaghfirli dzunubi waliwaali dayya warhamhuma kama rabbayaani saghiira”

“Ya Allah ampunilah dosa hamba-Mu ini, karena ketika sakit baru mengingat-Mu, ketika miskin baru mengingat-Mu, ketika terlambat dan dihimpit oleh waktu baru mengingat-Mu. Ya Allah buatlah Hamba-Mu ini tidak menyesal di Akhirat kelak”

Semoga Allah senantiasa menjaga kita agar kita tetap Istiqamah kepada Allah.

Alangkah indah dan bahagianya hidup bilamana selalu dalam naungan dan cinta kasih dari Sang Pencipta.

Maha besar Allah yang menciptakan Syurga maha indah untuk hamba-hambanya yang bertaqwa.

Maha besar Allah yang menciptakan Dunia beserta segala isinya sebagai tempat persinggahan manusia dalam menyembah Allah.

Maha besar Allah yang menciptakan manusia beserta perasaan cinta di dalamnya.

Masuk jam siang.

Sekembali dari kampus kusempatkan membaca kembali suatu kisah yang menyiratkan cinta didalamnya…

Berikut penggalan kisahnya…

“Tolong! Toloong hentikan kudaku ini! Ia tidak bisa dikendalikan.”

Mendengar itu Zahid tegang. Apa yang harus ia perbuat. Sementara kuda itu semakin dekat dan tinggal beberapa belas meter di depannya. Cepat-cepat ia menenangkan diri dan membaca shalawat. Ia berdiri tegap di tengah jalan. Tatkala kuda itu sudah sangat dekat ia mengangkat tangan kanannya dan berkata keras,

“Hai kuda makhluk Allah, berhentilah dengan izin Allah!”

Bagai pasukan mendengar perintah panglimanya, kuda itu meringkik dan berhenti seketika. Perempuan yang ada dipunggungnya terpelanting jatuh. Perempuan itu mengaduh. Zahid mendekati perempuan itu dan menyapanya,

Assalamu’alaiki. Kau tidak apa-apa?”

Perempuan itu mengaduh. Mukanya tertutup cadar hitam. Dua matanya yang bening menatap Zahid. Dengan sedikit merintih ia menjawab pelan,

Alhamdulillah, tidak apa-apa. Hanya saja tangan kananku sakit sekali. Mungkin terkilir saat jatuh.”

“Syukurlah kalau begitu.”

Dua mata bening di balik cadar itu terus memandangi wajah tampan Zahid. Menyadari hal itu Zahid menundukkan pandangannya ke tanah. Perempuan itu perlahan bangkit. Tanpa sepengetahuan Zahid, Ia membuka cadarnya. Dan tanpak wajah cantik dan memesona,

“Tuan, saya ucapkan terima kasih. Kalau boleh tahu siapa nama Tuan, dari mana dan mau ke mana Tuan?”

Zahid mengangkat mukanya. Tak ayal matanya menatap wajah putih bersih memesona. Hatinya bergetar hebat. Syaraf dan ototnya terasa dingin semua.

Inilah untuk pertamakalinya ia menatap wajah gadis jelita dari jarak yang sangat dekat. Sesaat lamanya keduanya beradu pandang. Sang gadis terpesona oleh ketampanan Zahid, sementara gemuruh hati Zahid tak kalah hebatnya. Gadis itu tersenyum dengan pipi merah merona, Zahid tersadar, ia cepat-cepat menundukkan kepalanya. “Innalillah. Astaghfirullah,” gemuruh hatinya.

“Namaku Zahid, aku dari masjid mau mengunjungi sasudaraku yang sakit.”

“Jadi, kaukah Zahid yang sering dibicarakan orang itu? Yang hidupnya Cuma didalam masjid?”

“Tak tahulah. Itu mungkin Zahid yang lain.” kata Zahid sambil membalikkan badan. Ia lalu melangkah.

“Tunggu dulu Tuan Zahid! Kenapa tergesa-gesa? Kau mau kemana? Perbincangan kita belum selesai!”

“Aku mau melanjutkan perjalananku!”

Tiba-tiba gadis itu berlari dan berdiri di hadapan Zahid. Terang saja Zahid gelagapan. Hatinya bergetar hebat menatap aura kecantikn gadis yang ada di depannya. Seumur hidup ia belum pernah mengahadapi situasi seperti ini.

“Tuan aku hanya mau bilang, namaku Afirah. Kebun ini milik ayahku. Dan rumahku ada di sebelah selatan kebun ini. Jika kau mau silakan datang ke rumahku. Ayah pasti akan senang dengan kehadiranmu. Dan sebagai ucapan terima kasih aku mau menghadiahkan ini.”……………………..?

Apapun itu hadiahnya… Inilah sepenggal kisah yang ku baca tadi siang.

Silakan Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s